Pertanyaan

Seseorang pernah minta diruqyah. Setelah ia mengetahui bahwa perbuatan tersebut mengurangi tauhid kepada Allah, kemudian ia bertaubat dan menyesal, apakah ia masih boleh berharap dan mendapatkan keutamaan 70.000 orang dari umat Rasulullah yang masuk surga tanpa hisab dan azab? jazakumullahu khairan.

 

Jawaban

Ketika menyebutkan umatnya, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ

“… bersama mereka, tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.”

Kemudian Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menerangkan sifat mereka,

 هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَلاَ يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka adalah orang tidak meminta untuk diruqyah, tidak melakukan thiyârah, dan tidak melakukan kayy, serta kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.”

Hadits di atas menyebutkan sifat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan siksaan, bahwa mereka tidak melakukan tiga perkara:

  1. Meminta untuk diruqyah, yaitu tidak meminta kepada orang lain untuk membacakan ruqyah guna mengobatinya.
  2. Thiyârah, yaitu menganggap sesuatu sebagai sebab kesialan, padahal tidak dalil syari’at yang menjelaskan tentang hal tersebut dan tidak hubungan sebab akibat pada sesuatu yang dia anggap mendatangkan kesialan.
  3. Kayy, yaitu mengobati diri dengan menggunakan besi panas.

Kemudian Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menutup tiga perkara di atas dengan suatu sifat yang mengumpulkan tiga perkara tersebut, yaitu bahwa sifat pokok tujuh puluh ribu orang itu adalah mereka hanya bertawakkal kepada Rabb mereka.

Hadits ini …