Posts tagged malam lailatul qadr

Hadits-Hadits Lemah Seputar Lailatul Qadr

0

Berikut kami mengangkat sejumlah hadits lemah berkaitan dengan lailatul qadr agar kelemahannya diketahui untuk tidak diamalkan. Kami merangkum hadits tersebut dari sejumlah buku yang kualitas pembahasannya bisa dipercaya.

Hadits Pertama

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ فَكَأَنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ أَنْ لَا يَبْلُغُوا مِنْ الْعَمَلِ مِثْلَ الَّذِي بَلَغَ غَيْرُهُمْ فِيْ طُولِ الْعُمْرِ فَأَعْطَاهُ اللَّهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam diperlihatkan umur-umur manusia sebelum beliau atau sesuatu yang Allah kehendaki dari hal tersebut. Beliau menganggap bahwa umur umatnya pendek untuk mencapai amalan yang telah dicapai oleh selain umat Islam yang berumur panjang. Maka, kepada beliau, Allah memberikan lailatul qadr yang lebih baik daripada seribu bulan.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththâ` no. 768. Ibnu ‘Abdil Barr berkata, “Saya tidak mengetahui hadits yang diriwayatkan secara musnad, tidak (pula) secara mursal dari jalur periwayatan (apapun), kecuali sesuatu yang ada dalam Al-Muwaththâ`. Itu adalah salah satu di antara empat hadits yang tidak ditemukan kecuali pada (kitab) yang bukan Al-Muwaththâ`.”[1]

Dalam Takmil An-Nafa’, penulisnya, Syaikh Muhammad ‘Amr Abdul Lathif, membawakan riwayat yang semakna dengan hadits di atas, yaitu sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas,sebuah riwayat mursal dari Mujahid, dan sebuah riwayat mu’dhal ‘keterputusan dalam sanad dengan gugurnya dua rawi atau lebih’ dari Ali bin ‘Urwah –salah seorang rawi yang sangat lemah-. Semuanya memiliki kelemahan.

 …

Beberapa Amalan yang Dianjurkan pada Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

0

Setelah memaklumi bahwa lailatul qadr berada pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, tentu seorang hamba harus mempersiapkan dirinya dengan beberapa amalan shahih yang, kalau dikerjakan pada lailatul qadr, nilai amalan itu tentu lebih baik daripada dikerjakan selama seribu bulan.

Amalan shahih apapun, yang dikerjakan pada lailatul qadr, akan mengandung keutamaan tersebut. Oleh karena itu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sangat memaksimalkan amalan shalih pada sepuluh malam terakhir sebagaimana diterangkan oleh Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ

“Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir, suatu hal yang beliau tidak bersungguh-sungguh (seperti itu) di luar (malam) tersebut.” [1]

Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim mencontoh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam kesungguhan beliau dalam hal menjalankan ibadah.

 

Berikut beberapa amalan yang pelaksanaannya sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Pertama: Qiyamul Lail

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berdiri (untuk mengerjakan shalat) pada lailatul qadr karena keimanan dan hal mengharap pahala, akan diampuni untuknya segala dosanya yang telah berlalu.” [2]

Perihal amalan ini juga diterangkan oleh Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ,

كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Adalah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, bila sepuluh malam terakhir telah masuk, mengencangkan …

Penentuan Lailatul Qadr

0

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan lailatul qadr dengan persilangan pendapat yang sangat banyak. Waliyuddin Al-‘Irâqy rahimahullâh menyebut dua puluh sembilan pendapat, sementara Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullâh menyebut empat puluh enam pendapat dan dua kemungkinan pendapat lain, dan tentunya ada berbagai pendapat lain yang bisa dirangkum dari para ulama yang berbicara tentang penentuan lailatul qadr ini. Tentang pembahasan ini, ada beberapa hal yang bisa menjadi simpulan:

Pertama, sebagian pendapat ulama dalam penentuan lailatul qadr ini dibangun di atas dalil yang shahih, sementara sebagian lain tidak berdasarkan dalil yang shahih dan tepat.

Kedua, penyebab terjadinya silang pendapat ini adalah keberadaan sejumlah hadits yang terkesan berbeda dalam penentuan lailatul qadr. Telah berlalu hadits Abu Sa’id bahwa lailatul qadr berada pada malam kedua puluh satu, juga hadits Abdullah bin Unais bahwa lailatul qadr berada pada malam kedua puluh tiga, demikian pula hadits Ubay bin Ka’ab bahwa lailatul qadr berada pada malam kedua puluh tujuh.

Di samping itu, ada hadits-hadits yang mengesankan bahwa lailatul qadr berada pada bulan Ramadhan secara umum, ada pula hadits yang menyebut bahwa malam itu berada pada sepuluh malam terakhir. Pada penyebutan sepuluh malam terakhir, sebagian riwayat menyebut secara umum, sebagian riwayat menyebut malam ganjil saja, dan sebagian riwayat lagi hanya menyebut sebagian di antara malam-malam ganjil itu.

Berdasarkan uraian di atas, bisa dianggap wajar bila terjadi persilangan pendapat di kalangan ulama dalam penentuan lailatul qadr.

Ketiga, …

Sebab Terangkatnya Penentuan Lailatul Qadr

0

Telah berlalu dalam sebagian pembahasan sebelumnya bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dibuat lupa terhadap lailatul qadr.

Dalam sebagian hadits, terdapat penjelasan tentang penyebab yang menjadikan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam terlupa terhadap lailatul qadr tersebut.

Dijelaskan oleh Ubadah bin Ash-Shâmit, beliau berkata, “Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam keluar untuk mengabarkan kepada kami tentang lailatul qadr, tetapi dua lelaki di antara kaum muslimin sedang bertikai. Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ ، فَتَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ ، فَرُفِعَتْ ، وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ ، فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ

‘Saya keluar untuk mengabarkan kalian tentang lailatul qadr, namun Fulan dan Fulan berselisih sehingga (lailatul qadr itu) terangkat. Semoga (hal tersebut) menjadi kebaikan bagi kalian. Oleh karena itu, carilah (malam itu) pada malam kesembilan, ketujuh, dan kelima.’.”[1]

Penyebab yang lain juga diterangkan oleh Abu Hurairah, yaitu karena beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam dibangunkan oleh sebagian istrinya. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أَيْقَظَنِيْ بَعْضُ أَهْلِيْ فَنُسِّيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْغَوَابِرِ

“Lailatul qadr telah diperlihatkan kepadaku, tetapi sebagian istriku membangunkanku maka saya pun dibuat lupa terhadap (malam) itu. Oleh karena itu, carilah (lailatul qadr) pada sepuluh malam yang tersisa.” [2]

Dalam mencermati tentang tidak ditentukannya lailatul qadr, terdapat beberapa hikmah yang sangat agung. Para ulama menyebut bahwa di antara hikmah tersebut adalah:

Menambah semangat seorang hamba agar hamba lebih bersungguh-sungguh dalam hal mencari lailatul …

Apakah Lailatul Qadr Hanya untuk Umat Islam?

0

Dalam menyikapi hal ini, ada dua pendapat di kalangan ulama:

Pendapat pertama, lailatul qadr adalah kekhususan bagi umat Islam. Tidak ada satu umat pun yang berserikat bersama mereka dalam hal ini.

Imam An-Nawawy rahimahullâh berkata, “Lailatul qadr adalah malam terafdhal dalam setahun. Allah mengkhususkan (malam) itu untuk umat ini.” Demikian pula komentar Ibnul Mulaqqin, Ibnu Katsir, dan selainnya, bahkan Al-Khaththaby menganggap bahwa itu adalah kesepakatan kalangan ulama.

Pendapat kedua, lailatul qadr juga terdapat pada umat-umat terdahulu. Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Dzarradhiyallâhu ‘anhu bahwa beliau berkata kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “ ‘Wahai Rasulullah, apakah (malam) itu bersama para nabi sepanjang mereka ada, apabila mereka meninggal, (malam) itu juga ikut terangkat, ataukah (malam) itu (tetap ada) hingga hari kiamat?’  Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab,

لَا، بَلْ هِيَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

‘Tidak, tetapi (malam) itu (tetap ada) hingga hari kiamat.’.”

Ibnu Katsir rahimahullâh berkata, “Yang ditunjukkan oleh hadits Abu Dzarradhiyallâhu ‘anhu adalah bahwa lailatul qadr terdapat pada umat-umat terdahulu sebagaimana terdapat pada umat kita.” Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Al-Qasthalany, Ibnu Hajar, dan selainnya.

Yang lebih kuat di antara dua pendapat di atas adalah pendapat pertama karena pendapat ini lebih mencocoki zhahir ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan lailatul qadr. Adapun hadits Abu Dzar radhiyallâhu ‘anhu, yang dijadikan sebagai hujjah oleh para ulama yang berpegang dengan pendapat kedua, itu adalah …

Go to Top