Muslimah

Bunda, Relakan Kepergian Anakmu

0

Seorang ibu duduk bersimpuh di dalam rumahnya dengan perasaan pecah oleh deraian air mata. Tik…tik…tik, kucuran air mata tidak terasa jatuh satu demi satu. Kepergian putranya ke sisi Allah Pemilik alam semesta. Sang ibu tidak mampu membuka mulutnya, kecuali sepatah-dua kata yang lirih hampir tidak terdengar saat ditanya.

Kala itu hancur perasaannya melihat buah hatinya kini tidak berdaya lagi dan malaikat maut telah menggenggam nyawanya. Hari-hari bersama si kecil menjadi memori yang susah terhapus dari benaknya. Senyum dan tangisan si bocah terasa terngiang-ngiang di telinganya. Semua membisu dengan duka yang merambah dalam sanubari. Seakan-akan semut-semut yang merayap ikut merasakan pilu hati sang bunda.

Bunda, relakan kepergian anakmu. Hapuslah air matamu. Bunda, tabahkan hatimu bunda; Iringi ia dengan panjatan doa dan munajatmu yang tulus di hari-harimu; semoga di suatu saat nanti ia akan bersamamu dalam bahagia yang berhias canda dan ria.

Bunda, hapus luka hatimu. Ingatlah bahwa tidak ada sehelai daun yang jatuh di bumi, kecuali dengan izin-Nya. Demikianlah tidak ada jiwa yang lepas dari kandung badan, melainkan dengan ketetapan Rabb-mu. Bunda, pujilah Allah -Azza wa Jalla-, Rabb Yang Menciptakan segala sesuatu.

Yakinlah Bunda bahwa tidak sesuatu Dia tetapkan, sedang engkau ridho dan rela dengan ketentuannya, kecuali engkau akan disayangi. Bunda, relakanlah kepergian kasihmu dan buah hatimu. tidak ada kesedihan yang diiringi sabar, melainkan Allah ganti dengan kebahagiaan abadi nan indah.

Bunda, ketahuilah bahwa anakmu yang pergi akan menjadi tabungan kebaikan …

Istri Shalihah : Anugrah Terindah

0

Dengan tergesa-gesa dan dada yang berdebaran,laki-laki itu tiba di rumahnya. Kepada sang istri,laki-laki itu memohon, ”Selimutilah aku! Selimutilah aku!”. Hangatnya selimut di tambah dengan perhatian dan ketenangan sang istri membuat rasa cemas yang ada sebelumnya mulai berangsur-angsur hilang. Suasana pun akhirnya menjadi tenang.

“Apa yang sedang terjadi pada diriku?”, demikian sang suami menumpahkan isi hati kepada istrinya. Tanpa diminta lebih lanjut, laki-laki tersebut kemudian menceritakan semua pengalaman yang belum lama terjadi. Ia ditemui makhluk ajaib dan didekap erat sambil memintanya untuk membaca. ”Aku tidak mampu membaca”, jawabnya. Terus berulang hingga tiga kali. Barulah makhluk ajaib itu melepaskan dirinya dan membacakan lima ayat pertama dari surat Al ‘Alaq.

Laki-laki itu adalah nabi kita, nabi Muhammad bin Abdullah. Makhluk ajaib itu tentunya adalah malaikat Jibril. Sementara sang istri yang melayani, mendengarkan cerita dengan sepenuh hati dan memotivasi untuk meneguhkan hati adalah wanita terbaik di atas muka bumi, Khadijah bintu Khuwailid.

Sungguh besar dan penting peranan seorang istri bagi seorang laki-laki. Mungkinkah laki-laki dapat hidup secara baik dan mapan tanpa kehadiran seorang istri? Allah menetapkan sunnah Nya; manusia diciptakan dengan berpasang-pasang. Target terpuncak dari maghligai pernikahan adalah mewujudkan ikatan yang dibalut oleh sakinah,mawaddah dan rahmah. Demi ketenangan hidup.

“Ada juga ulama yang tidak menikah?”. Benar, memang ada. Namun, berapakah prosentase mereka yang tidak menikah? Sangat kecil. Justru mayoritas ulama mewujudkan pernikahan. Kisah-kisah indah dan mengharukan tentang perjalanan pernikahan ulama juga tercatat di dalam …

Kapan Wanita Boleh Safar Tanpa Mahram?

0

Hukum asal bagi seorang wanita adalah tidak boleh bersafar atau tinggal di suatu tempat yang jaraknya jarak safar, kecuali harus bersama mahramnya. Dan mahram yang dimaksud di sini adalah lelaki dewasa yang tidak boleh dinikahi selama-lamanya. Hanya saja, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama, bahwa tidak ada satu hukum atau kaidahpun kecuali pasti ada pengecualian padanya. Dan masalah ini di antaranya.

Nah, tahukah anda, kapan saja seorang wanita boleh melakukan safar tanpa mahram? Berikut kami bawakan ucapan Asy-Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata:

“Semua safar walaupun jaraknya dekat, maka seorang wanita wajib ditemani oleh mahramnya. Kecuali pada empat keadaan:

Pertama: Jika mahramnya meninggal di tengah perjalanan, sementara dia telah jauh meninggalkan tempat asalnya.

Kedua: Jika wanita itu wajib berhijrah.

Ketiga: Jika dia berzina sehingga dia dihukum dengan pengasingan (pengusiran), sementara dia tidak mempunyai mahram.

Keempat: Jika hakim mengharuskan untuk mendatangkan dia setelah tuduhan dijatuhkan kepadanya, sementara dia tidak berada di situ ketika itu.”

[Diterjemahkan dari Al-Muntaqa Min Fara`id Al-Fawa`id hal. 44-45]

Sekedar sebagai tambahan penjelasan:
Keadaan kedua dimana ketika dia wajib berhijrah adalah semisal ada wanita yang masuk Islam di negeri kafir, dan terpenuhi padanya kemampuan untuk berhijrah sehingga dia wajib berhijrah dari negeri kafir menuju negeri Islam. Hanya saja ketika itu dia tidak mempunyai mahram. Maka dia tetap diwajibkan berhijrah walaupun tanpa disertai mahram.

Keadaan ketiga maksudnya jika wanita itu belum menikah. Karena jika dia telah menikah …

Penggunaan Obat untuk Mencegah Haid

0

Penggunaan obat untuk mencegah atau mendatangkan haid sering dilakukan kaum ibu. Jenisnya pun bermacam-macam tergantung keinginan. Bagaimana Islam memandang permasalahan ini? Bagaimana pula dengan obat untuk mencegah kehamilan?

Untuk menjelaskan masalah penggunaan obat atau jamu dalam rangka mencegah atau mendatangkan haid, berikut kami nukilkan fatwa As Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah (ulama besar Arab Saudi) yang tercantum dalam kitabnya Risalah fid Dima’ith Thabi‘iyyah lin Nisa’ dalam masalah: Penggunaan obat atau jamu yang dapat mencegah datangnya haid atau sebaliknya, dan obat atau jamu yang dapat mencegah kehamilan atau menggugurkannya.

Penggunaan obat/jamu yang dapat mencegah haid dibolehkan dengan dua syarat:

Pertama, apabila tidak dikhawatirkan terjadinya mudharat pada si wanita. Dengan demikian, apabila dikhawatirkan ada mudharat maka penggunaan obat/ jamu tersebut tidak dibolehkan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian kepada kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195)

“Janganlah kalian membunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian.” (An-Nisa: 29)

Kedua, harus mendapat izin suami apabila terkait dengan suami. Misalnya wanita tersebut tengah dalam masa ‘iddah, yang berarti selama ‘iddah itu wajib bagi suami untuk menafkahinya. Ternyata si wanita menggunakan obat/ jamu pencegah haid agar panjang masa berakhirnya ‘iddah dan bertambah lama waktunya untuk mendapat nafkah. Hal seperti ini tidak dibolehkan kecuali dengan izin suami. Demikian pula apabila obat/ jamu pencegah haid itu dipastikan dapat mencegah kehamilan, maka harus seizin suami dalam pemakaiannya.

Bila ternyata …

Seputar Ihdad bagi Seorang Perempuan

0

Terdapat sejumlah aturan dalam syariat Islam yang khusus berlaku bagi perempuan. Hal ini merupakan salah satu bentuk perhatian Islam kepada kaum Hawa yang mengangkat derajat mereka kepada kemuliaan dan kehormatan.

Namun, sangat disayangkan bahwa banyak aturan itu yang tidak diketahui oleh para muslimah, atau terdapat selaksa kesalahan dalam memahami dan mengamalkan aturan tersebut.

Di antara aturan-aturan tersebut adalah ihdad, yaitu, tatkala ditinggal mati oleh suaminya atau orang lain yang dia kasihi, seorang perempuan melakukan ihdad dengan menjauhi berbagai hal, yang penjelasannya akan datang.

Insya Allah -dengan memohon taufik dan ‘inayah dari Allah ‘Azza wa Jalla-, pembahasan kali ini adalah uraian ringkas seputar ihdad ini. Semoga Allah menjadikannya bermanfaat bagi penulisnya, pembacanya, dan setiap orang yang mengambil faedahnya.

 

Definisi Ihdad

Kata ihdad berasal dari akar bahasa Arab, kembali ke makna menahan ataumencegah. Oleh karena itu, sanksi-sanksi syariat, seperti potong tangan dan qishash, disebut dengan hudud (hukum had) karena penerapan hudud itu akan mencegah dan menahan terjadinya kezhaliman, pelampauan batas, dan penelantaran hak-hak manusia. Oleh karena itu, dari sinilah adanya penggunaan kata ihdad -secara bahasa- dengan makna perempuan yang menahan diri dari berhias dan yang semisalnya guna menampakkan kesedihan.

Adapun dalam istilah syariat, ada beragam ungkapan para ulama dalam mendefinisikan ihdad. Mungkin definisi terlengkap adalah yang menyatakan bahwa ihdad adalah penahanan diri seorang perempuan dari berhias, dan segala hal yang semakna dengan berhias, dalam jangka waktu tertentu

Hak-hak Wanita dalam Islam

0

Sesungguhnya Islam menempatkan wanita pada posisi yang tinggi dan sejajar de-ngan pria. Namun dalam beberapa hal ada yang harus berbeda, karena pria dan wanita hakikatnya adalah makhluk yang berbeda. Kesalahan dalam memahami ajaran yang benar inilah yang menjadikan Islam kerap dituding sebagai agama yang menempatkan wanita sebagai “warga kelas dua.” Benarkah? Simak kupasannya!

Suatu hal yang tidak kita sangsikan bahwa Islam demikian memuliakan wanita, dari semula makhluk yang tiada berharga di hadapan “peradaban manusia”, diinjak-injak kehormatan dan harga dirinya, kemudian diangkat oleh Islam ditempatkan pada tempat yang semestinya dijaga, dihargai, dan dimuliakan. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan banyak kebaikan kepada hamba-hamba-Nya.

Keterangan ringkas yang akan dibawakan, sedikitnya akan memberikan gambaran bagaimana Islam menjaga hak-hak kaum wanita, sejak mereka dilahirkan ke muka bumi, dibesarkan di tengah keluarganya sampai dewasa beralih ke perwalian sang suami.

 

1. Pada Masa Kanak-kanak
Di masa jahiliah tersebar di kalangan bangsa Arab khususnya, kebiasaan menguburkan anak perempuan hidup-hidup karena keengganan mereka memelihara anak perempuan. Lalu datanglah Islam mengharamkan perbuatan tersebut dan menuntun manusia untuk berbuat baik kepada anak perempuan serta menjaganya dengan baik. Ganjaran yang besar pun dijanjikan bagi yang mau melaksanakannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan anjuran dalam sabda-Nya:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ . وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

“Siapa yang memelihara dua anak perempuan hingga keduanya mencapai usia baligh maka orang tersebut akan datang pada …

Haramkah Wanita Memperdengarkan Suaranya?

0

Apakah suara wanita haram sehingga ia tidak boleh berbicara dengan pemilik warung/kios di pasar guna membeli kebutuhannya, walaupun tanpa membaguskan dan melembutkan suaranya? Begitu pula, dengan rasa malu ia mengajak bicara tukang jahit saat ia hendak menjahitkan pakaiannya?

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Ucapan wanita tidaklah haram dan bukan aurat. Akan tetapi, bila si wanita melunakkan suaranya dan melembutkannya, serta berucap dengan gaya bicara yang bisa membuat orang lain tergoda, itu baru haram. Ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Maka janganlah kalian tunduk dalam ucapan hingga berkeinginan jeleklah orang yang di hatinya ada penyakit.” (Al-Ahzab: 32)

Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan, “Maka janganlah kalian berbicara dengan para lelaki.” Tetapi, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan, “Maka janganlah kalian tunduk dalam ucapan.”

Tunduk dalam ucapan lebih khusus daripada berbicara secara mutlak.

Dengan demikian, tidak mengapa seorang wanita berucap kepada lelaki bila tidak menimbulkan fitnah. Dahulu ada wanita mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengajak bicara beliau, sementara orang-orang mendengar ucapan si wanita dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab ucapannya. Hal itu tidaklah dianggap sebagai kemungkaran.

Hanya saja, tidak boleh berduaan saat berbincang dengan seorang wanita, melainkan harus ditemani mahram si wanita dan tidak menimbulkan fitnah. Karena itulah, seorang lelaki tidak diperkenankan menikmati suara wanita, sama saja baik ia menikmatinya sebagai kesenangan yang biasa (karena kemerduan suaranya, misalnya, pen.) …

Perawatan Payudara Selama Hamil

0

Perawatan Payudara Selama Hamil
Penulis: dr. Saeful Anwar
Sakinah, Info Praktis, 14 – Agustus – 2003, 07:32:09

Saat seorang wanita hamil, terjadi perubahan-perubahan pada tubuhnya yang memang secara alamiah dipersiapkan untuk menyambut datangnya si buah hati. Perubahan-perubahan itu antara lain berat badan bertambah, perubahan pada kulit, perubahan pada payudara, dll.

Perawatan payudara sangat penting dilakukan selama hamil sampai masa menyusui. Hal ini karena payudara merupakan satu-satunya penghasil ASI yang merupakan makanan pokok bayi yang baru lahir sehingga harus dilakukan sedini mungkin.
Inilah karunia Allah yang sangat besar kepada kaum wanita di mana ASI merupakan makanan paling cocok bagi bayi, komposisinya paling lengkap, dan tidak bisa ditandingi susu formula buatan manusia.

Perawatan payudara selama hamil memiliki banyak manfaat, antara lain:
• Menjaga kebersihan payudara terutama kebersihan puting susu.
• Melenturkan dan menguatkan puting susu sehingga memudahkan bayi untuk menyusu.
• Merangsang kelenjar-kelenjar air susu sehingga produksi ASI banyak dan lancar.
• Dapat mendeteksi kelainan-kelainan payudara secara dini dan melakukan upaya untuk mengatasinya.
• Mempersiapkan mental (psikis) ibu untuk menyusui.

Bila seorang ibu hamil tidak melakukan perawatan payudara dengan baik dan hanya melakukan perawatan menjelang melahirkan atau setelah melahirkan maka sering dijumpai kasus-kasus yang akan merugikan ibu dan bayi. Kasus-kasus yang sering terjadi antara lain:
• ASI tidak keluar. Inilah yang sering terjadi. Baru keluar setelah hari kedua atau lebih.
• Puting susu tidak menonjol sehingga bayi sulit menghisap.
• Produksi ASI …

Tuntunan Berpakaian dan Berhijab bagi Muslimah

0

A. Sifat Pakaian yang Disyariatkan bagi Wanita Muslimah

1. Diwajibkan pakaian wanita muslimah itu menutupi seluruh badannya dari (pandangan) laki-laki yang bukan mahramnya. Dan janganlah terbuka untuk mahram-mahramnya kecuali yang telah terbiasa terbuka seperti wajah, kedua telapak tangan dan kedua kakinya.

2. Agar pakaian itu menutupi apa yang ada di sebaliknya (yakni tubuhnya), janganlah terlalu tipis (transparan), sehingga dapat terlihat bentuk tubuhnya.

3.Tidaklah pakaian itu sempit yang mempertontonkan bentuk anggota badannya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih Muslim dari Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam bahwasanya beliau bersabda:
“Dua kelompok dari penduduk neraka yang aku belum melihatnya, (kelompok pertama) yaitu wanita yang berpakaian (pada hakekatnya) ia telanjang, merayu-¬rayu dan menggoda, kepala mereka seperti punuk onta (melenggak-lenggok, membesarkan konde), mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya. Dan (kelompok kedua) yaitu laki-laki yang bersamanya cemeti seperti ekor sapi yang dengannya manusia saling rnemukul-mukul sesama hamba Allah. “(HR. Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata di dalam Majmu’ Al-Fatawa (22/146) dalam menafsirkan sabda Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam:
“Bahwa perempuan itu memakai pakaian yang tidak menutupinya. Dia berpakaian tapi sebenarnya telanjang. Seperti wanita yang memakai pakaian yang tipis sehingga menggambarkan postur tubuh (kewanitaan)-nya atau pakaian yang sempit yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, seperti pinggul, lengan dan yang sejenisnya. Akan tetapi, pakaian wanita ialah apa yang menutupi tubuhnya, tidak memperlihatkan bentuk tubuh, serta kerangka anggota badannya karena bentuknya yang tebal dan lebar.”

4.Pakaian wanita itu tidak menyerupai pakaian laki-laki.
Rasulullah …

Meninjau Ulang Emansipasi

0

Prinsip kewanitaan dalam Islam menjadi tema yang tak habis-habisnya disoroti oleh aktivis perempuan dan kalangan feminis. Mulai dari soal kepemimpinan, peran dan partisipasi wanita, hingga masalah sensitif berjuluk poligami. Semuanya bermuara pada sebuah gugatan, bahwa wanita harus diberi hak yang sama alias sejajar dengan pria dalam segala hal.

Adalah sebuah kenyataan, bahwa wanita berbeda dengan pria dalam banyak hal. Baik perbedaan kondisi fisik, sisi emosional yang menonjol, maupun yang lainnya. Bahkan hal-hal tersebut bersifat kodrati, bukan label sosial yang dilekatkan sebagaimana yang sering didalilkan oleh banyak kaum feminis. Walaupun tentunya, wanita memiliki sekian banyak kelebihan yang tak dimiliki kaum pria. Kelebihan dan kekurangan masing-masing akan saling melengkapi sehingga pria dan wanita bisa bersenyawa menjadi sepasang suami-istri.

Namun, tatanan ini nampaknya hendak dicabik-cabik oleh para penjaja emansipasi yang mengemasnya sebagai kesetaraan gender. Hal itu diklaim sebagai simbol kemajuan negara-negara Barat. Para feminis dan aktivis perempuan itu seolah demikian percaya bahwa kemajuan terletak pada segala hal yang berbau Barat.

Padahal jika mau jujur, emansipasi tak lebih dari sekedar ‘produk gagal’ dari industri peradaban Barat. Mereka seakan tutup mata dengan keroposnya sendi-sendi masyarakat Barat dengan tingginya angka perceraian, meratanya seks bebas, merebaknya homoseksualitas karena dilegalkan, dan berbagai tindak asusila lainnya. Oleh karena itu, tuntutan emansipasi yang berkiblat pada Barat, sudah saatnya ditinjau ulang.

Sejarah Munculnya Emansipasi

Dari kacamata sejarah, munculnya gerakan emansipasi berawal dari rasa frustasi dan dendam terhadap sejarah kehidupan Barat yang …

Yang Muslimah Lakukan ketika Hendak Keluar Rumah

0

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Asy-Syaikh rahimahullah


Tanya : Apa yang wajib dilakukan oleh seorang wanita muslimah ketika hendak keluar dari rumahnya ke pasar atau mesjid atau ketika menziarahi kerabatnya ?

Jawab : “Wajib atasnya untuk bertaqwa kepada Allah, menjauhi wangi-wangian, komitmen menjaga hijabnya, meninggalkan pakaian-pakaian yang ketat yang terkadang membentuk potongan-potongan tubuhnya. Dan hendaknya dia menutup dan menjaga dirinya, bersegera menunaikan keperluannya dan kembali (ke rumahnya) secepatnya. Dia tidak menjadikan pasar-pasar sebagai tempat berkeliling dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, ,akan tetapi (yang wajib adalah) dia keluar untuk keperluannya, menunaikannya dan kembali secepatnya”.

 

Sumber : Jurnal Al-Atsariyyah Vol. 01/Th01/2006 atau klik di sini

Anugerah yang Terzholimi

0

Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah disempurnakan oleh Allah -Subhanahu wa Ta’ala- sebagai rahmat bagi seluruh hamba-Nya, sehingga agama ini tidak butuh tambahan, pengurangan dan otak-atik.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Ma`idah: 3)

Di antara rahmat Allah -Ta’ala- kepada hamba hamba-Nya, disyari’atkannya “poligami” (seorang laki laki memiliki lebih dari satu istri) berdasarkan dalil-dalil yang akan datang.

Namun berbicara masalah poligami akan mengundang berbagai tanggapan. Ada yang menanggapinya secara posotif dan ini datangnya dari ulama’ dan kaum beriman. Tetapi, ada pula yang menanggapinya secara negatif, bahkan menentangnya dengan keras di antara segelintir orang dari kalangan orang-orang munafiq, dan orang-orang yang jahil dari kaum wanita dan laki-laki. Berbagai alasan dilontarkan intuk menolak poligami, entah dengan alasan kecemburuan, emosi, atau tidak siap dimadu, bahkan dengan alasan ketidakadilan.

Mungkin dengan dasar inilah, ada seorang penulis wanita (kami tidak sebutkan namanya) berusaha menentang, dan menzholimi “anugerah poligami” ini untuk membela kaum wanita -menurut sangkaannya-, padahal sebenarnya ia menzholimi kaum wanita. Maka dia pun menuangkan “pembelaannya” (baca: penzholimannya) tersebut dalam bentuk tulisan yang dimuat oleh koran“Kompas”, edisi 11 Desember 2006, dengan judul, “Wabah itu Bernama Poligami”. Sebuah judul yang memukau bagi orang-orang jahil, terlebih lagi orang-orang munafiq. …

Wanita Durhaka

0

Tak ada gading yang tak retak. Mungkin pribahasa ini sudah sering terlintas di telinga kita. Kandungan pribahasa ini sering kita jumpai dalam kehidupan kita. Apalagi dalam kehidupan berumah tangga yang penuh dengan problema. Awalnya, semua terasa indah. Namun ketika badai menghadang, petir-petir kemarahan menyambar, awan pekat menyelimuti, tangis pilu mengiris hati; membuat semuanya berubah. Semuanya harus diterima sebagai sunnatullah. Kadang kita menangis, dan terkadang kita tertawa. Semua itu berada di bawah kehendak Allah -Subhanahu wa Ta’la- .

Kehidupan berumah tangga akan indah, jika masing-masing anggotanya mendapat ketentraman. Sedang ketentraman akan terwujud jika sesama anggota keluarga saling menghargai, dan memahami tugas masing-masing. Namun, tatkala hal tersebut tidak ada, maka alamat kehancuran ada di depan mata. Diantara penyebab hancurnya keharmonisan itu adalah durhakanya seorang istri kepada suaminya. Maka, pada edisi kali ini kita akan membahas bahaya istri yang durhaka.

Pembaca yang budiman, sesungguhnya Allah -Subhanahu wa Ta’la- menciptakan istri bagi kita, agar kita merasa tentram dan tenang kepadanya. Sebagaimana firman Allah -Subhanahu wa Ta’la-

“Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum :21)

Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata menafsirkan ayat ini, “Kemudian diantara kesempurnaan rahmat-Nya kepada anak cucu Adam, Allah menciptakan pasangan mereka dari jenis mereka, dan

Go to Top