Hadits:

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لا يُبْدَأُ فِيهِ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ أَقْطَعُ

“Setiap perkara yang memiliki kepentingan, tidak diawali dengan “Bismillahirahmanirrahim” maka dia terputus.”

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany (pakar hadits kurun ini) berkata:

Hadits ini lemah sekali (dha’if jiddan).

Telah diriwayatkan oleh As-Subuky dalam “Thabaqat Asy-Syafi’iyah Al-Kubra” (6/1) dari Abu Hurairah secara marfu’. Sanad yang disebutkan As-Subuky ini lemah sekali. Cacatnya ada pada rawi bernama Ibnu ‘Imran yang dikenal dengan Ibnu Al-Jundy. Al-Khathib mengatakan dalam “Tarikh”nya: “Dia dilemahkan dalam riwayatnya. Ibnul Jauzy menyebutkan rawi tersebut dalam penyebutan hadits-hadits palsu.

As-Subuky membawakan jalur riwayat yang lain melalui Kharijah bin Mush’ab. Tapi dengan lafazh “bihamdillah” bukan “bismillahirrahmanirrahim”. Khrijah ini dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar: matruk (ditinggalkan haditsnya), dia melakukan semacam penipuan periwayatan dari para pendusta.” Dan disebutkan bahwa Ibnu Ma’in mendustakan Kharijah.

Jalur yang lain dari Muhammad bin Katsir Al-Mishishy. Dan rawi ini lemah, karena dia banyak keliru, sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh (Ibnu Hajar).

Dari keterangan yang ada bahwa hadits ini dengan konteks tersebut adalah lemah sekali. Jangan tertipu dengan orang yang menghasankannya. Karena dalam jalur periwayatan ini ada kelemahan yang sangat, sebagaimana bisa kita lihat.

(Dinukil secara ringkas dari Irwa’ Al-Ghalil: (1/29-30)

Hadits:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه بالحمد لله فهو أقطع. وفي رواية: بحمد الله، وفي رواية: بالحمد، وفي رواية: فهو أجذم

“Setiap perkara yang memiliki kepentingan, tidak diawali dengan “Alhamdulillah” maka dia terputus. Dalam riwayat: “dengan hamdalah”, dalam riwayat: “dengan Alhamdu”, dalam riwayat: “maka dia terpotong”.”

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany (pakar hadits kurun ini) berkata:

Hadits ini lemah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah secara marfu’, Ibnu Hibban, Ad-Daruquthny, dan Abu Dawud.

Abu Dawud mengisyaratkan bahwa hadits ini mursal (dari Az-Zuhry langung dari Nabi, tidak menyebutkan dari Abu Hurairah, dan Zuhry tidak mendengar ataupun ketemu Nabi). Demikian juga dikatakan oleh Ad-Daruquthny. Rawi yang bernama Qurrah yang meriwayatkan secara marfu’ maka dia lebih lemah dari pada rawi yang meriwayatkan secara mursal. Qurrah ini adalah Qurrah bin Abdurrahman Al-Mighfary Al-Mishry. Ibnu Ma’in berkata tentangnya: “Lemah dalam hal hadits”. Abu Zur’ah mengatakan: “Hadits-hadits yang dia riwayatkan itu mungkar”.

(Kemudian Asy-Syaikh Al-Albany berbicara panjang lebar tentang kelemahan rawi ini).

Diriwayatkan melalui jalur yang lain, yang mana lemah juga. Padanya ada perawi bernama Shadaqah, dan dia lemah, sebagaimana kata Al-Hafizh.

Jadi secara keseluruhan: Hadits ini lemah, karena adanya kegoncangan riwayat dari Az-Zuhry.

(Dinukil secara ringkas dari Irwa’ Al-Ghalil: (1/30-32)

 

 Sumber : klik di sini