Seorang penuntut ilmu harus berakhlak dengan berbagai adab santun. Kami akan paparkan beberapa diantaranya:

الأمر الأول : إخلاص النية لله عز وجل
1. Mengikhlaskan niat untuk Allah ‘Azza wa Jalla

 

Tujuan dalam menuntut ilmu adalah untuk (mengharapkan) wajah Allah dan untuk (memperoleh kebaikan) kehidupan akhirat. Allah telah menganjurkan dan memberikan motivasi untuk menuntut ilmu di dalam firman-Nya,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang haq untuk diibadahi melainkan Allah dan mohonlah ampun atas dosamu.” (Muhammad: 19)

Pujian terhadap ulama di dalam Al-Qur’an telah cukup dikenal. Apabila Allah memuji sesuatu atau memerintahkannya, maka hal tersebut menjadi suatu amaliah ibadah. Jika demikian maka dalam menuntut ilmu wajib untuk mengikhlaskan diri hanya bagi Allah, yaitu dengan jalan seorang harus meniatkan (mengharapkan) wajah Allah. Jika seseorang meniatkan dalam menuntut ilmu syari’at itu untuk meraih ijazah yang akan dia gunakan untuk mencapai suatu kedudukan ataupun status tertentu, maka sesungguhnya Rasulullah bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَة

“Barangsiapa mempelajari ilmu yang diharapkan dengannya wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta dunia maka dia tidak akan mencium wangi surga di Hari Kiamat.”1

Maksudnya adalah mencium baunya. Dan ini merupakan ancaman yang keras. Tapi jika ada seorang penuntut ilmu yang mengatakan saya ingin memperoleh ijazah bukan lantaran ingin mendapatkan bagian dari harta dunia akan tetapi sistem (yang ada) menjadikan ukuran seorang ulama adalah ijazahnya. Kami katakan, jika seseorang berniat memperoleh ijazah dalam rangka memberi kemanfaatan kepada orang lain baik dalam bidang pengajaran, administrasi, atau dalam bidang lainnya maka hal tersebut merupakan niatan yang lurus, tidak membahayakan dirinya sedikitpun, karena niatan tersebut benar.

Kita mengulas faktor keikhlasan di awal pembahasan adab-adab penuntut ilmu tidak lain karena keikhlasan merupakan hal yang prinsipil. Maka penuntut ilmu wajib meniatkan amalannya dalam rangka menunaikan perintah Allah. Karena Allah memerintahkan dalam firman-Nya,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang haq untuk diibadahi melainkan Allah dan mohonlah ampun atas dosamu.” (Muhammad: 19)

Allah memerintahkan untuk berilmu, maka jika engkau mempelajari ilmu berarti engkau telah menunaikan perintah Allah Azza wajalla.

____________
Footnote:

1 HR. Ahmad juz 2 hal 338, Abu Dawud dalam Kitabul ‘Ilmi Bab: Thalabul ‘Ilmi li Ghairillah, Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah Bab: Al-Intifa’u bil ‘Ilmi wal Amalihi bihi, Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1 hal 160, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf juz 8 hal. 543, Al-Ajuri dalam Akhlaqul ‘Ulama hal. 142, Akhlaqul Ahlil Qur ‘an hal. 128 no. 57. Al-Hakim berkata, “Hadits shahih dan perawinya tsiqah.”

 

الأمر الثاني: رفع الجهل عن نفسه وعن غيره
2. Menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain

 

Ketika seseorang menuntut ilmu hendaknya diniatkan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain. Karena asal muasal manusia adalah bodoh. Dalil hal tersebut adalah firman Allah,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan kamu tidak mengetahui sesuatupun dan Allah memberikanmu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.” (An-Nahl: 78)

Realita membuktikan demikian, maka engkau harus meniatkan (dalam menuntut ilmu adalah) untuk menghilangkan kebodohan dari dirimu. Dengan demikian engkau akan mendapatkan rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Jadi, engkau harus berniat menghilangkan kebodohan dari dirimu, karena pada dasarnya dalam dirimu tersimpan kebodohan. Jika engkau belajar engkau akan menjadi orang yang berilmu dan kebodohanmu akan hilang.

Demikian pula engkau meniatkan (dengan belajar itu) untuk menghilangkan kebodohan dari umat ini. Hal tersebut dapat dicapai dengan ta’lim (proses belajar mengajar) atau dengan berbagai macam cara agar orang lain bisa menimba manfaat dari ilmumu.

Apakah termasuk syarat mengambil manfaat ilmu adalah dengan cara duduk di masjid dalam suatu halaqah ataukah mengambil manfaat ilmu tersebut pada semua kondisi?

Jawabnya: dengan (jawaban) kedua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بلغوا عني ولو آية

“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.”2

Apabila engkau mengajarkan ilmu kepada seseorang kemudian orang itu mengajarkan kepada orang lain, maka engkau akan mendapatkan pahala dua orang. Apabila orang ketiga mengajarkan kepada orang lain, engkau akan mendapatkan pahala tiga orang. Demikian seterusnya.

Tergolong perbuatan bid’ah apabila seseorang menunaikan suatu ibadah lalu mengucapkan,

اللهم اجعل ثوابها لرسول الله

“Ya Allah, jadikan pahala ibadah ini untuk Rasulullah.”

Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang telah mengajari dan menunjukimu, maka (secara otomatis) beliau akan mendapatkan pahala seperti pahalamu.

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

العلم لا يعدله شيء لمن صحت نيته

“Ilmu, tidak ada satu pun yang dapat menandinginya bagi orang yang lurus niatnya.”

Para muridnya bertanya, “Mengapa demikian?” Beliau menjawab,

ينوي رفع الجهل عن نفسه وعن غيره

“(Karena) ia berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.”

Sebab pada dasarnya kebodohan melekat pada diri mereka sebagaimana kebodohan itu merupakan sifat dasar yang melekat pada dirimu. Apabila engkau belajar dalam rangka rnenghilangkan kebodohan dari umat ini berarti engkau digolongkan dalam deretan orang yang berjihad di jalan Allah dan menyebarkan agama-Nya.

____________
Footnote:

2 HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Anbiya’ Bab: Maa Dzakara ‘an Bani Israil

 

الأمر الثالث: الدفاع عن الشريعة
3. Membela Syari’at

 

Dengan menuntut ilmu ia juga mempunyai niat untuk membela syari’at (Islam). Sebab kitab-kitab tidak dapat membela syari’at (secara langsung) dan pembelaan syari’at ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang yang mengembannya. Jika seorang Ahlul Bid’ah datang ke suatu perpustakaan yang dipenuhi berbagai macam kitab syari’at yang tidak terhitung jumlahnya, lalu dia berbicara dengan kebid’ahan dan mengikrarkannya maka saya yakin tidak akan ada satu kitab pun yang akan membantahnya. Lain halnya jika Ahlul Bid’ah tersebut berbicara dengan kebid’ahannya di hadapan seorang yang berilmu (ulama) untuk mengikrarkan kebid’ahannya, tentu penuntut ilmu tersebut akan membantah dan menghabisi ucapannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu harus meniatkan belajarnya untuk membela syari’at.

Pembelaan terhadap syari’at Islam tidak mampu dilakukan kecuali oleh orang-orang yang memiliki senjata. Apabila kita memiliki berbagai macam senjata yang telah memenuhi gudang persenjataan apakah senjata-senjata itu sanggup dengan sendirinya menembakkan pelurunya kepada musuh? Ataukah tidak bisa kecuali dengan orang yang menggerakkannya?

Jawabannya: perbuatan itu (menyerang musuh dengan senapan) tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang menggunakannya. Demikian juga dengan ilmu. Sesungguhnya bid’ah yang baru akan terus muncul, terkadang terjadi bid’ah-bid’ah yang tidak muncul pada zaman dahulu dan bid’ah-bid’ah tersebut tidak terdapat dalam kitab-kitab (buku-buku), sehingga tidak mungkin membela syari’at ini kecuali dilakukan oleh penuntut ilmu.

Oleh karena itu saya katakan, sesungguhnya termasuk hal-hal yang wajib untuk diperhatikan oleh penuntut ilmu adalah masalah pembelaan syari’at ini. Dengan demikian manusia berada dalam kondisi sangat butuh kepada ulama, dalam rangka menghadapi tipu daya Ahlul Bid’ah dan segenap musuh-musuh Allah. Hal itu tidaklah bisa terealisasi kecuali dengan ilmu syari’at yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

الأمر الرابع: رحابة الصدر في مسائل الخلاف
4. Berlapang dada dalam masalah khilafiyah (perbedaan pendapat)

 

Hati seorang penuntut ilmu harus lapang dalam masalah perbedaan pendapat yang bersumber dari proses ijtihad. Sebab masalah perbedaan pendapat di kalangan ulama bisa jadi tergolong masalah yang tidak ada lagi tempat untuk berijtihad dalam masalah tersebut. Sebab titik masalahnya sudah jelas (gamblang) sehingga tidak seorangpun memperoleh udzur (alasan) untuk menyelisihinya.

Bisa jadi masalah tersebut adalah masalah yang masih terbuka pintu ijtihad di dalamnya, sehingga seseorang bisa diterima alasannya jika menyelisihi (pendapat yang lain) dalam masalah itu. Bukan berarti ucapanmu akan menjadi bumerang bagi orang yang menyelisihimu, sebab kalau kita menerima (konsep) itu maka tentunya kita akan katakan dengan yang sebaliknya ucapannya (bisa) menjadi bumerang atasmu. Berdasarkan hal tersebut, saya mengingatkan bahwa akal tidak mempunyai tempat dalam masalah ini, sehingga orang-orang tidak mempunyai kelonggaran untuk berselisih paham dalam masalah tersebut.

Adapun orang-orang yang menyelisihi jalan kaum Salaf seperti (dalam) masalah-masalah aqidah, maka dalam masalah ini penyelisihan yang dilakukan seseorang yang berbeda dengan yang diyakini oleh Salafus Shalih tidak bisa ditolerir. Tapi pada masalah-masalah lain yang ada tempat bagi akal untuk berperan di dalamnya, maka tidak sepatutnya untuk menjadikan perbedaan pendapat tersebut sebagai bahan cemoohan pada orang lain. Dan tidak sepatutnya untuk menjadikan hal tersebut sebagai pemicu terjadinya permusuhan dan kebencian.

Para shahabat radhiyallahu ‘anhum, saling berbeda pendapat dalam banyak masalah. Dan siapa yang ingin mengetahui perbedaan pendapat di kalangan mereka hendaklah ia merujuk atsar-atsar yang menuturkan tentang (keadaan) rnereka. Akan dijumpai adanya perbedaan pendapat dalam berbagai masalah. Permasalahan mereka lebih besar dibandingkan dengan masalah-masalah yang diangkat oleh orang-orang pada zaman ini sebagai isu-isu untuk berbeda pendapat, sehingga orang-orang menjadikan perbedaan itu sebagai bentuk pengkotak-kotakan massa. Mereka mengatakan, “Saya seide dengan Fulan, saya satu haluan dengan Fulan.” Seolah-olah masalah ini adalah masalah penggolong-golongan (antara satu kelompok dengan kelompok lain). Ini adalah suatu kekeliruan.

Contoh dari hal tersebut, ada seseorang mengatakan, “Jika engkau bangkit dari ruku’ janganlah engkau letakkan tangan kananmu di atas tangan kirimu, tapi lepaskanlah kedua tanganmu ke arah sisi kedua belah pahamu. Jika engkau tidak mengerjakannya maka engkau adalah mubtadi’ (ahli bid’ah).”

Kalimat “mubtadi’” bukan suatu perkara yang remeh. Apabila ada orang yang mengatakan itu padaku maka akan timbul ketidaksukaan dalam dadaku sebab kita adalah manusia biasa.

Kita katakan, dalam permasalahan ini terdapat kelonggaran, seseorang mungkin untuk meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya atau melepaskan kedua tangannya. Oleh karenanya Imam Ahmad memberikan alternatif untuk memilih apakah ia meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya ataukah melepaskannya. Sebab perkara dalam persoalan ini cukup longgar.

Tapi amalan manakah yang merupakan sunnah dalam masalah ini? Jawabannya: Yang sunnah adalah engkau meletakkan tangan kananmu di atas tangan kirimu jika engkau bangkit dari ruku’, sebagaimana engkau meletakkannya tatkala berdiri. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Sahal bin Sa’ad, beliau berkata,

كان الناس يؤمرون أن يضع الرجل يده اليمنى على ذراعه اليسرى في الصلاة

“Dulu orang-orang menyuruh mereka yang mengerjakan shalat untuk meletakkan tangan kanan di atas lengan kirinya.”3

Silahkan engkau perhatikan, apakah beliau kehendaki hal itu (menaruh lengan kanan di atas lengan kiri) ketika sujud, ketika ruku’, ataukah ketika duduk? Tidak, namun yang dikehendaki beliau adalah ketika dalam keadaan berdiri, baik berdirinya itu sebelum ruku’ atau sesudahnya.

Jadi kita wajib untuk tidak menjadikan perbedaan pendapat yang muncul di kalangan ulama sebagai pemicu perpecahan dan persengketaan di antara umat Islam. Sebab kita semua mendambakan kebenaran dan kita semua menjalankan apa yang dipahami dari proses ijtihad mereka. Selama masih sebatas itu, maka kita tidak diperkenankan untuk menjadikan hal tersebut sebagai pemicu permusuhan dan perpecahan di antara ulama. Sebab perbedaan pendapat itu senantiasa muncul di kalangan ulama, bahkan pada zaman Nabi sekali pun. Kalau begitu, penuntut ilmu berkewajiban untuk bersatu padu dan mereka tidak menjadikan perbedaan pendapat semacam ini sebagai sebab untuk saling menjauhi dan saling membenci satu sama lain.

Sebaliknya, yang wajib jika engkau berbeda pendapat dengan rekanmu berdasar kandungan dalil yang engkau pegang dan dia berbeda pendapat denganmu berdasarkan dalil yang dia pegang, hal itu justru akan menjadikan kalian berada di atas jalan yang sama dan kecintaan di antara kalian berdua pun akan semakin bertambah.

Oleh karena itu kami merasa bersuka cita dan menyambut gembira terhadap generasi muda kita yang memiliki kecenderungan besar untuk mengadakan studi banding terhadap berbagai macam masalah dengan menyodorkan dalil-dalil dan adanya kecenderungan besar untuk membangun ilmu mereka di atas Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kami memandang bahwa fenomena tersebut merupakan pertanda baik dan kabar gembira pun akan ia rasakan dengan dibukanya pintu-pintu ilmu dari jalur-jalur yang benar. Dan kita tidak menghendaki mereka menjadikan fenomena tersebut sebagai pemicu proses pengkotakan massa dan penanaman kebencian. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka.” (Al-An’am: 159)

Kami tidak menyepakati perbuatan orang-orang yang menjadikan diri mereka menjadi bergolong-golong dan masing-masing fanatik pada golongannya. Sebab golongan Allah hanyalah satu. Kami pun memandang bahwa perbedaan paham lain dan tidak pula mendorong mereka untuk menjatuhkan kehormatan saudaranya.

Para penuntut ilmu wajib menjadi orang-orang yang bersaudara kendati mereka berselisih paham dalam sebagian perkara furu’ (cabang) dan hendaknya satu sama lain mengajak dengan cara yang tenang dan bertukar pikiran (diskusi) dengan tujuan mencari wajah Allah dan tercapainya target ilmu.

Dengan sikap lembut akan terjalin persatuan. Fenomena kerusakan dan sifat arogan pada sebagian orang akan hilang. Terkadang hal tersebut sampai menyeret mereka pada pertengkaran dan permusuhan. Dan itu tidak diragukan lagi akan membuat musuh-musuh kaum muslimin bersorak gembira. Dan perselisihan yang terjadi di antara umat Islam tergolong aspek yang paling merugikan umat Islam sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)

Para shahabat radhiyallahu ‘anhum saling berbeda pendapat pada masalah-masalah semacam ini. Tapi mereka tetap berada di atas satu hati, di atas cinta kasih dan tetap bersatu. Bahkan saya akan katakan secara terus terang, apabila seseorang berbeda pendapat denganmu dengan dalil yang dia pegang, sebenarnya orang tersebut adalah mencocokimu. Sebab masing-masing dari kalian berdua adalah pencari kebenaran. (Alasan) berikutnya, tujuan kalian pun sama yaitu tercapainya target kebenaran yang berasal dari dalil.

Jika demikian halnya, maka orang tersebut tidak berbeda pendapat denganmu, selama engkau mengakui bahwa dia berbeda pendapat denganmu dengan dalil yang dia pegang. Lalu dimana (letak) perbedaan pendapatnya? Dengan cara ini umat akan tetap bersatu padu, meskipun mereka berbeda pendapat dalam beberapa masalah lantaran adanya dalil yang dipegang oleh masing-masing dari mereka.

Adapun orang yang keras kepala dan membantah setelah tampak kebenaran, maka tidak disangsikan lagi bahwa orang tersebut harus disikapi dengan cara yang setimpal dengan perbuatannya setelah (tampak) pembangkangan dan penyimpangannya. Setiap keadaan memiliki peringatan yang disesuaikan dengan kondisinya.

____________
Footnote:

3 HR. Al-Bukhari dalam Kitab Shifatush Shalat Bab: Wadha ‘al Yimna ‘alal Yusra (meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri) dan lafadznya dari Sahal bin Sa’ad berkata: “Manusia disuruh untuk meletakkan tangan kanan di atas lengan kiri dalam shalatnya.”

 

Dinukil dari kitab Kitabul Ilmi Edisi Indonesia Tuntunan Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu Syar’i Bab Adab dalam Menuntut Ilmu Syar’i Penerjemah Abu Abdillah Salim bin Subaid Penerbit Pustaka Sumayyah

… Insya Allah bersambung