Hukum Shalat di Masjid yang dibangun dengan Harta Riba

0

dijawab oleh al-’Allamah Samahatu asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah

Pertanyaan :

Seseorang membeli sebuah tempat dengan harta riba, untuk dibangun masjid. Apakah boleh shalat di masjid tersebut? demikian pula sebagiannya terdapat harta haram, seperti hasil khamr (minuman keras). Apakah sah shalat di masjid tersebut?

 

Jawab :

Shalat di masjid tersebut sahNamun tidak boleh menggunakan harta seperti itu (harta riba/harta haram, pen) untuk masjid. Wajib dipilihkan untuk masjid harta yang baik. Apabila ada harta yang baik, wajib (untuk membangun masjid dengan harta tersebut, pen).

Shalatnya sah. Namun masjid tidak boleh dimakmurkan dengan harta riba, tidak boleh pula dengan harta (hasil) zina.

http://www.binbaz.org.sa/mat/4122

 

فتاوى اللجنة الدائمة – 1 (6/ 244)

الصلاة في مسجد بني بمال حرام

السؤال التاسع والعاشر من الفتوى رقم (7720)

س9: ما حكم الصلاة في المسجد الذي بني ابتغاء وجه الله تعالى، وقد خلط مال بنائه بمال ربا؟

س10: ما حكم الصلاة في المسجد الذي بني من التبرعات ومنها مال مسروق؟

ج9، 10: تجوز الصلاة في كل منهما وإثم كل من المرابي والسارق على نفسه.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس

عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah (no. 7720)

Pertanyaan ke-9 :

Apa hukum shalat di masjid yang dibangun karena mengharap wajah Allah Ta’ala. Namun …

Hukum Memakai Cincin Kawin atau Cincin Pertunangan

0

Apa hukumnya memakai cincin kawin atau cincin pertunangan?

(Mawardi, Banjarmasin)

 

Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari

Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah.

Telah diajukan pertanyaan seputar masalah ini kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah. Dan beliau berfatwa:

“Cincin tunangan adalah ungkapan dari sebuah cincin (yang tidak bermata). Pada asalnya, mengenakan cincin bukanlah sesuatu yang terlarang kecuali jika disertai i’tiqad (keyakinan) tertentu sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Seseorang menulis namanya pada cincin yang dia berikan kepada tunangan wanitanya, dan si wanita juga menulis namanya pada cincin yang dia berikan kepada si lelaki yang melamarnya, dengan anggapan bahwa hal ini akan menimbulkan ikatan yang kokoh antara keduanya. Pada kondisi seperti ini, cincin tadi menjadi haram, karena merupakan perbuatan bergantung dengan sesuatu yang tidak ada landasannya secara syariat maupun inderawi (tidak ada hubungan sebab akibat).1)

Demikian pula, lelaki pelamar tidak boleh memakaikannya di tangan wanita tunangannya karena wanita tersebut baru sebatas tunangan dan belum menjadi istrinya setelah lamaran tersebut. Maka wanita itu tetaplah wanita ajnabiyyah (bukan mahram) baginya, karena tidaklah resmi menjadi istri kecuali dengan akad nikah.” (sebagaimana dalam kitab Al-Usrah Al-Muslimah, hal. 113, dan Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, hal. 476)

 

Telah diajukan juga sebuah pertanyaan kepada Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah: “Apa hukum mengenakan cincin atau cincin tunangan apabila terbuat dari perak atau emas atau logam berharga yang lain?”

Beliau menjawab: “Seorang lelaki tidak boleh mengenakan emas baik berupa cincin …

Perbedaan Nabi dan Rasul

0

Nabi dan rasul adalah dua kata yang sering kita dapatkan dalam nash-nash syariat. Tentu sebuah kewajaran ketika muncul pertanyaan, “Adakah perbedaan antara nabi dan rasul? Apakah keduanya memiliki makna yang sama atau berbeda?” Sebagian ulama berpendapat bahwa nabi dan rasul sama, tidak ada perbedaan di antara keduanya dari sisi makna. Namun, pendapat ini tidak diperkuat oleh dalil. Bahkan, tampak bahwa dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah tidak sejalan dengan pendapat ini. Pendapat yang benar adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Mereka menyatakan adanya perbedaan antara nabi dan rasul.

Pendapat ini diperkuat oleh dalil-dalil yang sahih dari al-Kitab dan as-Sunnah, termasuk hadits Abu Dzar dan Abu Umamah radhiyallahu ‘anhuma tentang jumlah nabi dan jumlah rasul. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah setelah menyebut hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu tentang jumlah nabi dan rasul—yang telah kita bahas bersama—berkata, “Ketahuilah, hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu yang baru saja kita sebut, demikian pula hadits-hadits lain yang telah kita ketengahkan sebelumnya, semua menunjukkan adanya perbedaan antara rasul dan nabi. Perbedaan ini ditunjukkan pula oleh al-Qur’an, seperti firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, kecuali apabila ia mempunyai sebuah keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan

Hukum Khitan bagi Wanita

0

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Bagaimana hukum sunat bagi perempuan menurut hukum Islam? Jazakumullah khair sebelumnya atas jawabannya. Heru R heruxxxxxx@gmail.com

Bismillah.

Khitan bagi wanita juga disyariatkan sebagaimana halnya bagi pria. Memang, masih sering muncul kontroversi seputar khitan bagi wanita, baik di dalam maupun di luar negeri. Perbedaan dan perdebatan tersebut terjadi karena berbagai alasan dan sudut pandang yang berbeda. Yang kontra bisa jadi karena kurangnya informasi tentang ajaran Islam, kesalahan penggambaran tentang khitan yang syar’I bagi wanita, dan mungkin juga memang sudah antipati terhadap Islam. Lepas dari kontroversi tersebut, selaku seorang muslim, kita punya patokan dalam menyikapi segala perselisihan, yaitu dikembalikan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa’: 59)

Setelah kita kembalikan kepada Allah  Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, serta telah jelas apa yang diajarkan oleh Allah  Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, kewajiban kita adalah menerima ajaran tersebut sepenuhnya dan tunduk sepenuhnya dengan senang hati tanpa rasa berat. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban orangorang mukmin, apabila mereka dipanggil

Janji Suami kepada Istri untuk Tidak Menikah Lagi

0

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah

Pertanyaan: Salah seorang ikhwah di negeri kami (Indonesia) bertanya kepada Anda; apakah seorang suami boleh berjanji kepada istrinya untuk tidak menikah lagi, dan jika dia melanggar janjinya apakah dia bersalah?

 

Jawab: Ada yang bertanya tentang seseorang yang berjanji kepada istrinya untuk tidak menikah lagi, kemudian dia melanggarnya dengan menikah lagi, jawabannya: jika janji tersebut terjadi ketika akad nikah dan akad itu dibangun di atas syarat ini –yaitu dia menikahi wanita tersebut dengan syarat tidak akan menikah lagi– maka wajib atas suami untuk memenuhinya, karena akad tersebut terjadi dengan syarat ini, dan kaum Muslimin itu terikat dengan syarat mereka. Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda:

الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِمْ، إِلَّا شَرْطًا أَحَلَّ حَرَامًا أَوْ حَرَّمَ حَلَالًا.

“Kaum Muslimin itu terikat dengan syarat mereka, kecuali syarat yang menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal.” (Asy-Syaikh Al-Albany rahimahullah menilainya shahih dalam Irwa’ul Ghalil no. 1303 –pent)

Hadits ini dibicarakan (diperselisihkan) keshahihannya, tetapi maknanya benar dan merupakan kaedah yang agung. Jika dia mengatakan janjinya tersebut setelah akad karena sebuah sebab atau yang lainnya, kemudian dia berubah pikiran dan merasa perlu untuk menikah lagi, maka dari satu sisi hal itu boleh baginya dan dia tidak teranggap melanggar syarat. Kemudian hendaknya dia menimbang maslahat, apakah maslahatnya dengan memenuhi janji ataukah maslahatnya dengan menikah lagi. Jadi benar-benar diperhatikan mana yang maslahat. Sebagian manusia terkadang padanya ada hal-hal yang datangnya belakangan (yang …

Biografi Sa’ad bin Abi Waqqash

0

Para sahabat Nabi memiliki kebaikan hati, kedalaman ilmu, kelurusan perilaku,keindahan perangai, dan jauh dari sikap pembebanan diri. Karenanya, Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya dan sekaligus menegakkan agama-Nya. Menjadikan para sahabat sebagai suri teladan adalah pokok mendasar bagi kaum muslimin. Demikian ini dititahkan dalam Islam sebagai ajaran mulia. Selayaknya kita bersemangat mengenal pribadi mereka. Satu di antaranya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.

 

Mengenal Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu

Tubuh pendek, gemuk, rambut keriting, hidung pesek, kulit sawo matang, jemari tebal dan kasar, serta badannya dipenuhi bulu; itulah sosok Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam nan mulia. Beliau bernama Sa’ad bin Abi Waqqash Malik bin Uhaib bin ‘Abdi Manaf al-Qurasyi az-Zuhri al-Makki. Kunyah beliau adalah Abu Ishaq. Nasab beliau radhiyallahu ‘anhu bertemu dengan nasab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada ‘Abdu Manaf bin Zuhrah. Beliau radhiyallahu ‘anhu lahir di Makkah dan berasal dari suku Quraisy. Memiliki keturunan sebanyak 35 anak, di antaranya Ibrahim, ‘Amir, ‘Umar, Muhammad, Mush’ab, dan ‘Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anhu termasuk dalam as-Sabiqunal Awwalun (para sahabat Nabi yang pertama kali masuk Islam). Beliau pula termasuk salah satu dari Ahlusy Syura (enam sahabat Nabi yang dipilih ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu untuk menentukan pengganti ‘Umar sebagai khalifah). Bahkan Sa’ad radhiyallahu ‘anhu tergolong dalam al-’Asyarah al-Mubasysyarun bil Jannah (sepuluh sahabat Nabi yang mendapat kabar gembira dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa …

Hukum Tentang Menyimpan Uang di Bank

0

Pertanyaan:

Apakah boleh menyimpan uang di bank karena ketika disimpan di rumah dikhawatirkan hilang?

 

Jawaban:

Dimaklumi bahwa tempat penyimpanan uang, baik bank maupun lembaga keuangan lain, tidak lepas dari dua keadaan:

  1. Tidak mengandung unsur riba dan hal yang diharamkan.
  2. Mengandung riba dan hal yang diharamkan.

Tentunya, pada keadaan pertama, tidaklah mengapa bila menyimpan uang di bank atau lembaga keuangan yang lain karena tidak ada pelanggaran syariat di dalamnya.

Adapun pada keadaan kedua, tentang menyimpan uang pada bank atau lembaga keuangan yang mengandung riba dan hal yang diharamkan, Kita perlu memerhatikan dua perkara:

Pertama: keperluan si penyimpan.

Siapa saja yang berada dalam kondisi darurat atau terdesak untuk menyimpan uangnya di bank karena takut dirampok, khawatir rusak, penyimpanan di rumahnya akan mendatangkan bahaya, dan semisalnya, insya Allah tidak mengapa bila menyimpan uang di bank dengan menjaga diri agar tidak bergampangan dengan muamalah bank dan tidak mengambil bentuk riba apapun yang bank berikan. AllahSubhânahu Wa Ta’âlâ telah berfirman,

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

 “Padahal sesungguhnya Dia telah menjelaskan kepada kalian segala sesuatu yang Dia haramkan atas kalian, kecuali apa-apa yang terpaksa kalian makan. [Al-An’âm: 119]

Kalau keperluan menyimpan uang bukanlah hal yang mendesak, penyimpanan tersebut adalah hal yang tidak diperbolehkan. Allah ‘Azza Wa Jalla telah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan)

Hukum Menerima Pemberian dari Harta Haram

0

Pertanyaan:

Apakah boleh menerima uang pinjaman (tanpa bunga) atau pemberian/hibah dari teman untuk modal usaha kita, sementara uang tersebut dia peroleh dari pinjaman bank?

 

Jawaban:

Harta haram terbagi dua[1]:

Pertama, haram pada dzat dan asalnya. Yaitu, harta yang memang asalnya adalah haram, seperti anjing, babi, atau berkaitan dengan kepemilikan orang lain, seperti barang curian dan hasil rampokan.

Pada harta seperti ini, para ulama bersepakat bahwa tidak boleh diterima berdasarkan keharaman dalam dzat harta tersebut dan karena keberkaitan dengan kepemilikan orang lain. Kesepakatan ulama tentang ketidakbolehan ini telah dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dan selainnya[2].

Kedua, haram karena sifatnya atau sebab dalam mendapatkannya. Yaitu, harta yang didapatkan dengan cara haram, seperti hasil riba atau hasil judi.

Pada harta yang seperti ini, terdapat silang pendapat di kalangan ulama. Yang benar adalah boleh diambil, tetapi dengan mengingat bahwa sebagian ulama menganggap bahwa harta yang lebih didominasi oleh hal haram adalah lebih wara’untuk ditinggalkan.

Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu ditanya tentang seseorang yang memiliki tetangga yang memakan riba secara terang-terangan, tetapi tidak merasa bersalah dengan harta yang buruk, lalu si tetangga itu mengajaknya dalam undangan makan. Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu pun menjawab, “Penuhilah undangannya. Kenikmatan (makanan) adalah untuk kalian, tetapi dosanya adalah terhadap dia.” Dalam sebuah riwayat, si penanya berkata, “Saya tidak mengetahui sesuatu apapun yang menjadi miliknya, kecuali hal yang buruk atau hal yang haram,” tetapi Ibnu Mas’ûd tetap menjawab, …

Puasa Muharram, Puasa Utama

0

Oleh: Al-Ustadz Abdul Qadir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

(Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan)

 

Di bulan Muharram kita dianjurkan memperbanyak puasa. Karena, ia adalah bulan mulia di sisi Allah. Kebiasaan berpuasa di bulan ini telah lama dikenal di kalangan kaum jahiliah Quraisy. Mereka mengambil kebiasaan itu dari sisa-sisa ajaran para nabi dan rasul sebelum diutusnya Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-. Tak heran apabila Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tetap membiarkan puasa itu dan memerintahkan para sahabat melakukannya saat beliau di Madinah. [Lihat Irsyadul Kholq Ilaa Dinil Haqq (hal. 454-455) oleh Mahmud As-Subkiy]

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhu-, ia berkata, “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah Romadhon adalah (puasa) pada bulan Allah, Bulan Muharram dan sholat yang paling utama usai sholat wajib adalah sholat malam”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 1163)]

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa berpuasa di bulan Muharram merupakan amalan yang utama di sisi Allah -Azza wa Jalla-.

Al-Imam Abu Zakariyyah An-Nawawiy -rahimahullah- berkata, “Sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, “Puasa yang paling utama setelah Romadhon adalah (puasa) pada bulan Allah, Al-Muharram…” merupakan penegasan bahwa ia (Bulan Al-Muharram) bulan yang paling utama untuk berpuasa”. [Lihat Al-Minhaj (8/55) oleh AN-Nawawiy, cet. Dar Ihya' At-Turots Al-Arobiy, 1392 H]

Perhatikanlah keutamaan besar yang dimiliki oleh Bulan Muharram, ia dikatakan sebagai “Bulan Allah”. Disini Allah …

Keindahan Akhlak dan Sifat Tawadhu Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin

0

Tidak hanya ucapan, perbuatan beliau pun menjadi bukti sifat tawadhu dan akhlak mulianya. Beliau berkata, “Demikianlah seorang dai, hendaknya bersifat lembut dan wajah berseri serta berlapang dada. Dengan demikian, ia lebih mudah diterima oleh orang yang didakwahi menuju jalan Allah Subhanahu wata’ala… Maka dari itu, nasihat saya kepada saudara-saudara saya para dai, hendaknya memiliki perasaan ini. Hendaknya mereka mendakwahi manusia dengan perasaan kasih sayang kepada mereka, dan dalam rangka mengagungkan agama AllahSubhanahu wata’ala, serta menolong agama-Nya.” Inilah yang kemudian beliau terapkan dalam diri beliau. Beliau adalah sosok yang menyenangkan, sederhana, murah senyum, tawadhu’, menghormati manusia, bahkan kepada yang lebih muda sekali pun.

Tidak hanya itu, beliau juga suka bercanda dengan mereka. Dikisahkan bahwa suatu ketika beliau datang ke Jeddah. Setelah pertemuan, beliau diundang oleh sekian banyak orang-orang berpangkat. Namun, dengan baik beliau menolak tanpa menyinggung perasaan mereka dan mengatakan, “Undangan kalian telah didahului. Aku sudah diundang oleh salah seorang anak muda.” Lalu beliau berjalan menuju seorang anak muda yang masih sekolah di bangkutsanawiyah (setingkat SMA di sini, -red.), kemudian memegang tangannya dan mengatakan kepada mereka, “Dia lebih dahulu mengundangku daripada kalian, dan aku menyambut undangannya.” Orang-orang sangat heran terpana melihat ketawadhuannya. Di kesempatan yang lain, saat beliau di Makkah di musim haji, seseorang bertemu beliau dan mengundangnya, “Ya Syaikh, saya berharap, Anda mau menyambut undangan saya walau sekali saja, dan Anda mau duduk bersama saudara-saudara dan keluarga saya,” pinta orang …

Download Dauroh Slipi – Jadilah Seorang Salafy Sejati (02/11/2013)

0

Berikut ini merupakan rekaman dauroh yang, alhamdulillah, telah diselenggarakan pada :

- Hari : Sabtu
- Tanggal :  28 Dzulhijjah 1434 / 2 November 2013
- Tempat : Masjid Al Mujahidin, Slipi, Jakarta Barat
- Pembahasan : Jadilah Seorang Salafy Sejati (Pembahasan Kitab: Kun Salafiyyan ‘alal Jaddah)
- Pembicara : Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Judul Ukuran (MB) Durasi Link Download
Jadilah Seorang Salafy Sejati – Sesi 1 7.56 66:06 Archive 4Shared Mediafire
Jadilah Seorang Salafy Sejati – Sesi 2 9.28 81:08 Archive 4Shared Mediafire
Jadilah Seorang Salafy Sejati – Sesi 3 dan Tanya Jawab 3.87 33:49 Archive 4Shared Mediafire

Dauroh Slipi

Sumber rekaman : klik di sini

Adab-Adab Pengajar dan Pelajar

0

ADAB-ADAB PENGAJAR DAN PELAJAR[1]

Karya: Asy-Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir As-Sa’diy

  • Mengikhlaskan niat

Menjadi kepastian kepada ahlul ilmi baik para pelajar dan pengajar agar mereka menjadikan dasar urusan mereka yang dibangun di atasnya gerakan-gerakan mereka dan diamnya mereka adalah ikhlas yang sempurna dan mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dengan ibadah ini yang merupakan ibadah yang paling mulia, paling sempurna, dan paling bermanfaat, serta paling luas manfaatnya. Mereka akan mencari dasar yang bermanfaat ini dalam setiap perkara mereka yang kecil ataupun besarnya. Jika mereka mengajar atau belajar, membahas atau berdiskusi, atau memperdengarkan dan mendengarkan ilmu, menulis atau menghafal, atau mengulang-ulang pelajaran mereka yang khusus, atau memurojaahpada pelajaran itu atau kitab-kitab yang lain, atau mereka duduk di satu majlis ilmu, atau menukil pendahulu-pendahulu mereka untuk majlis-majlis ilmu, atau membeli kitab-kitab, atau perkara yang membantu untuk menuntut ilmu, maka keikhlasan kepada Allah dan mengharap pahala-Nya dan ganjaran-Nya terus mengikuti mereka, agar kesibukan mereka semua menjadi sebuah kekuatan dan ketaatan dan jalan menuju Allah, dan menuju kemuliaan-Nya, dan agar mereka mewujudkan sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Barangsiapa menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudah satu jalan baginya menuju syurga.”[2]

Maka setiap jalan hissi atau maknawi yang ditempuh seorang ahlulilmi yang dimaksudkan untuk mendapat ilmu atau memperolehnya, maka itu masuk dalam hadist ini.

 

  • Jalan Menuntut Ilmu

Kemudian setelah ini dipastikan untuk memulai ilmu-ilmu syar’i yang paling penting kemudian …

Hukuman-Hukuman yang Mendidik dan Bermanfaat

0

Di sana ada hukuman-hukuman yang mendidik dan sukses, pantas bagi seorang pengajar untuk menggunakannya kepada pelajar-pelajar yang menyimpang dari adab-adab pelajaran dan tidak menghormati kedudukan ustadz, yaitu hukuman-hukuman mendidik yang aman dari akibat-akibat yang buruk, yang memberi jaminan kesuksesan dengan kehendak Allah. Hukuman-hukuman tersebut bermacam-macam:

1. Nasihat dan Bimbingan

Ini adalah cara yang pokok dalam kegiatan belajar dan mengajar yang sangat dibutuhkan. Metode ini telah ditempuh oleh guru besar bersama anak-anak atau orangtua-orangtua.

a. Adapun kepada anak-anak, pernah Rasulullah melihat anak yang sedang makan dan tangannya kesana kemari (mengambil di tempat makanan,- pent) maka beliau mengajarinya cara makan.

“Wahai anak, bacalah nama Allah (mengucapkan basmalah) dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang dekat denganmu.” [Muttafaqun ‘alaih]

Dan jangan sekali-kali seseorang mengatakan bahwa cara pengajaran seperti ini pengaruhnya sedikit pada anak-anak.

Sungguh saya telah menerapkan metode ini beberapa kali, ternyata benar-benar mempunyai pengaruh yang sangat bagus dan telah lalu dalam pembahasan tentang peringatan terhadap perkara-perkara yang berbahaya. Tentang kisah seorang anak yang mencela agama, bagaimana saya menasehatinya dan diapun menerima nasihat.

Ada satu kejadian ketika saya berjalan bersama seorang pengajar. Kami melihat seorang anak kencing di tengah jalan. Maka pengajar tersebut berteriak kepada anak tersebut sambil mengatakan:

“Celaka kamu… Celaka kamu… jangan lakukan!!”

Maka anak itupun terkejut dan memutus kencingnya kemudian lari. Saya katakan kepada pengajar tersebut: “Kamu telah menyia-nyiakan bagi kita nasihat untuk anak tersebut.” Maka dia berkata kepadaku: …

Go to Top